Kebijakan Transportasi 2026: Angkot Bogor Berkurang, Penumpang Massal Bertambah
By Admin

Balaikota Bogor
nusakini.com, Pemerintah Kota Bogor secara bertahap terus mengurangi jumlah angkutan kota (angkot) di tengah lonjakan jumlah penduduk. Kebijakan tata ruang ini terungkap jelas dalam publikasi akun Instagram resmi Kominfo Kota Bogor pada Senin, 22 September 2026.
Berdasarkan rilis tersebut, populasi warga mengalami kenaikan signifikan hingga 10,88 persen sejak tahun 2022 hingga 2025. Sebaliknya, volume angkot di jalan raya justru menyusut drastis sebesar 14,44 persen pada periode evaluasi yang sama.
Badan Pusat Statistik (BPS) setempat mencatat total penduduk bertambah pesat dari 1,04 juta jiwa menjadi 1,16 juta jiwa. Data dari Dinas Perhubungan melengkapi fakta bahwa keberadaan armada angkot turun perlahan dari 3.172 unit menjadi 2.714 unit.
"Penataan dilakukan melalui rasionalisasi angkot, termasuk menarik sebagian armada dari jalan," bunyi keterangan resmi dalam unggahan instansi tersebut. Langkah strategis ini merupakan bentuk amanat langsung dari pengesahan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2023 tentang Transportasi.
Sebagai bentuk nyata rasionalisasi lapangan, sebanyak 108 angkot kini telah resmi digantikan oleh 49 unit bus massal BisKita. Selain itu, otoritas terkait juga menarik paksa 203 unit angkot lainnya tanpa memberikan kuota armada pengganti sama sekali.
Meski pilihan angkot makin berkurang, mobilitas warga menggunakan transportasi umum justru tercatat jauh lebih tinggi dibanding empat tahun lalu. Angka pergerakan pengguna angkutan publik sukses mencapai 25,89 juta orang pada 2025, atau naik sekitar 12,23 persen dari 2022.
Volume penumpang angkutan umum sebenarnya sempat memuncak tajam pada angka 30,47 juta jiwa di tahun 2023 lalu. Namun, tren positif ini sedikit merosot akibat penghentian sementara operasional BisKita pada rentang Januari hingga Oktober 2025.
Kondisi tersebut menegaskan bahwa ekosistem transportasi Kota Hujan sedang bergeser masif ke arah angkutan massal yang lebih modern. Kesuksesan penataan lalu lintas kota kini sangat bergantung pada ketersediaan unit armada bus publik yang konsisten beroperasi. (*)